* Peringatan Hari Difabel Sedunia (3 Desember)
“Danpincuk Pengidola Gus Dur
Yang Mau Merangkul
Semua”
Tanggal 3 Desember kalangan publik internasional
memperingati hari Difable (hari Cacat Sedunia). Banyak isu kemudian menyelimuti
para manusia yang ‘dianugerahi’ kekurangan oleh Tuhan YME di dunia, termasuk di
Indonesia dan salahsatunya di pundak Danpincuk (Komandan pimpinan pucuk) kader
lingkungan di sudut desa Mangunrejo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang.
Kekurangan fisiknya berupa cacat bawaan lahir—kaki sebelah kanan bagi M
Sodiq (42) merupakan anugerah untuk perjuangan hidup demi keluarga, anak-anaknya
dan lingkungan serta bersosial kemasyarakatan.
Pelan, tegas, lancar penuturan M Sodiq membagi wawasan pengalamannya kepada
sejumlah wartawan, kemarin siang saat ditemui di sebuah warung kopi. Ditawari
sebatang rokok, ia menolaknya halus. Pria sebagai imam bahtera keluarganya
dikaruniai dua putra sejak menikahi Umi Wahyulestari (39) seorang guru PAUD.
Ahmad Ma’aruf Al Khirqi (15) dan Abdurrahman Wachid Add Dhakhir (3)
dibimbingnya menjadi anak yang berbakti.
Tiga tahun lamanya, Sodiq turut menjalankan roda ekonomi keluarga dengan
menjajakan produk krupuk Ramba’an “AA” ke sejumlah toko besar lintas Kecamatan.
Semua aral hidup dilakoni Sodiq dengan ikhlas dalam kondisi hanya berpijak
dengan satu kaki kiri. “Kekurangan saya ini adalah anugerah. Saya dapat sejak
lahir. Jalan saya sudah digariskan yang Kuasa, “ tuturnya.
Sembari menaruh tongkat kayu, pria yang keluar dari perkuliahan fakultas
Hukum Universitas Muhammadiyah Malang ini mengungkapkan jika sejak lama ia
sudah getol di bidang organisasi. Selama menjadi mahasiswa pun ia tidak sekali
dua kali turut berunjuk rasa, terutama persoalan maraknya SDSB dan penggantian
Bemo dengan Angkot.
“Saya lahir di Jatirejoyoso, SD di sana, Mts dan Aliyah di Pasuruan. Sejak
sekolah, saya jadi ketua kelas, ketua Osis, dengan kondisi kekurangan saya,
tidak ada kendala, “ sebut Sodiq. Perjalanan keluarga Sodiq sempat
terombang-ambing pada sekitaran 2002, hingga kemudian berbalik merambat naik
atas perjuangan Sodiq.
Kini Sodiq ibarat ‘gak krasan ndek ngisore genteng’ (Tidak betah di
bawah genting—red) lantaran sering beraktifitas tanpa mengenal lelah. Sejumlah
aktifitas keorganisasian kemudian turut tersisip dalam kehidupan Sodiq sebagai
pengabdiannya untuk lingkungan sekitar. Sederet aktifitas, diantaranya tercatat
sebagai pembina LP3L Desa Mangunrejo, kordinator PNPM perkotaan Mangunrejo dan
Danpincuk kader lingkungan serta memberikan pembinaan ‘Bank Sampah’ di desanya
tinggal.
Di mata Sodiq, kekurangan tidak dapat dijadikan alasan berhenti berjuang.
“Jauh sempurna saya tapi saya bersyukur karena tidak lontang lantung. Saya
“tidak melihat terus ke bawah”, kalau “mendongak terus ke atas” juga akan
sakit. Kekurangan saya jusru menjadi solusi, “ ungkap filosofis Sodiq yang
mengartikan pula bahwa terus bekerja dan berguna bagi lingkungan adalah pilihan
penting untuk membuat sebuah perubahan daripada mengeluhkan masalah kompleks
kehidupan.
“Di bidang organisasi, saya tidak mengharuskan diri sebagai ketua. Saya
sudah cukup bersyukur dapat berguna untuk lingkungan. Adanya Bank Sampah, bisa
berguna dan membantu warga desa, “ papar Sodiq yang mengidolakan sosok almarhum
Gus Dur—sapaan akrab Abdurrahman Wachid—presiden ke-3 Republik Indonesia.
Kenapa Gus Dur? “Gus Dur itu unik. Dia bisa merangkul semuanya. Siapapun. Agama
Islam dimaknai sebagai rahmatan lil alamin, “ urai Sodiq.
Sebagai orang berkaki satu, adakah ia sering dilecehkan seseorang? Ia lalu
menceritakan pengalamannya membeli barang di salah satu pasar Kepanjen.
Bukannya dilayani penjual, Sodiq malah diberi selembar seribu rupiah.
Terangsaja pelecehan ini membuat Sodiq menahan amarah dan hanya mengucapkan
bahwa dirinya sanggup membeli bedak di penjual.
Menurutnya, pelecehan, diskriminasi dan ‘pengurangan’ daya kreatifitas
sering dialami kaum difable di Indonesia. Adanya pengumpulan komunitas
orang-orang termasuk difable, dinilai Sodiq sebagai pengkerdilan dan
‘pelecehan’ kaum difable. “Tidak seharusnya mereka dijadikan ajang mencari
proyek. Mereka seakan ‘direndahkan’, seperti ‘dikurung’ diajari membuat sandal,
kerajinan. Itu bisa membuat mereka tidak percaya diri, ‘seperti katak dalam
tempurung’, “ papar Sodiq.
Ia melanjutkan pandangannya, “Lihatlah realitas, masyarakat. Kebanyaan
mereka melihat orang yang cacat sebagai kelemahan. Mereka itu sebenarnya bisa,
kita bisa memberdayakan diri, “ tambah Sodiq, anak ke-lima dari 9 bersaudara.
Pelecehan terhadap difable kemudian disebut Sodiq telah merasuki sistem
pemerintah, terutama penyelenggara pemerintahan.
Kondisinya yang “kurang satu kaki”, sesungguhnya tidak menyita perhatian
sedikit dermawan. Sejumlah tawaran pemberian gratis kaki palsu kemudian bukan
berarti ditolak mentah-mentah lantaran tidak mengandung ketulusan bagi seorang
Sodiq.
Sekaliber Andy F Nayoan (program Kick Andy) pernah pula ditolak Sodiq. Di
mata Sodiq, adanya kaki palsu sama dengan pengejawantahan dari penipuan yakni menipu
diri sendiri dan orang lain. Pemakaian kaki palsu menurut Sodiq tidak memiliki
esensi nilai tambah bagi perjuangan kehidupan.
Sepele, baginya, pemakaian kaki palsu dapat merepotkannya ketika melakukan
aktifitas rutin sepreti masuk ke dalam kamar mandi. Dimengerti maksud Sodiq,
apapun situasi diri, ia berharap adanya kejujuran dengan penampilan apa adanya.
“Tidak ada nilai tambahnya. Malah merepotkan. Bagi saya, itu mempersulit
kita masuk WC. Ketok’e gagah, tapi itu menunjukkan esensi penipuan, “ sebut
Sodiq yang juga mengidolai sosok Mahatma Gandi, San Su Kyi.
Pria yang tidak suka merokok ini kemudian mempertanyakan rasa toleransi
perusahaan swasta bagi para difable atau kaum ‘kekurangan’. Salahsatunya di
bidang pekerjaan, kaum difable sering mendapat perlakuan diskriminasi. Tidak
sekali dua kali, ia menghujat bahwa diskriminasi dilakukan pihak penyelenggara
pemerintah, terutama dalam bidang pekerjaan atau penerimaan pelamar kerja.
Diterangkannya, lowongan kerja sering mencantumkan persyaratan bahwa
pelamar kerja diharuskan sehat jasmani dan rohani. Kalimat sehat jasmani dan
rohani rupanya hanyalah bahasa lain dari ‘korupsi’ esensi arti kata sehat itu
sendiri. Sebab kata ‘sehat’ dimaknai para penerima pelamar kerja dengan sehat
secara utuh bagian tubuh tanpa kekurangan.
“Sehat dimaknai harus lengkah jasmaninya, saya tidak sepakat kalau itu
kemudian dimaknai kekurangan bagian atau fungsi tubuh. Kondisi kekurangan seperti
saya ini bukan penyakit, “ papar Sodiq yang usaha bisnis krupuknya juga dibantu
enam keluarga janda. (Santoso Fn)
No comments:
Post a Comment