Tuesday, July 22, 2014

Kodok Iseng Sendiri

“Hai, kodok ngorek, siapalagi yang masih mendengarkan nyanyian ketulusanmu ?”celutuk lamunanku. Ya, mungkin cuma gemerusuk lengang jadi teman setia kita saat memuncak malam itu. Jangan tanyakan perkara ketahanan baterai Blackberrymu, terlebih listrik padam.

Baru tadi aku ngobrol soal kematian. Tapi mesti terbentur salah paham. Berkali-kali coba mengerti maksud pikirannya—yang umumnya orang—menganggapnya persoalan tabu untuk dibicarakan. Bicara soal mati itu pamali. Huh ….

Mati, siapa saja nantinya tuntas, entah kapan. Sepulang kerja, terpasang bendera putih palang hitam di gapura hitam kampung.

Tunduk tak bergeming, angin berhembus hening. Baru terpasang. Sampai di depan pintuku sendiri, entah dimana kodok-kodok ngorek itu bernyanyi. Soal hidup ataukah ajal.

Perkara apapun itu, aku sepakat. Hidup mati urusan Yang Di Atas. Tapi apa salah ataukah tidak etis mempertanyakannya pada dia—tempatku belajar membaca cinta, membaca diri, dari dalam seutuhnya.

Toh, belum sampai berkasih-kasihan, ujungnya amarah tanpa nalar. “Itu urusan nanti cox !” pisuhnya pelan, tulus.

Resiko kerjanya mati. Wartawan bisa mati. Seperti kasus-kasus di luar sana, di luar negeri. Apalagi di negeri yang apapun bisa terjadi. Tinggal kenangan, terlupakan atau sesaat saja lalu diingat kembali jadi bahan berita naif. Begitu juga aku, manusia abu-abu ini. Semoga bukan bunglon.

Teringat seorang rekan wartawati pernah bilang, “Hidup itu pilihan, kita kuli, manusia. Stres jadi bagian hidup ini bukan ?”. Seorang polisi juga sangat yakin berkata, seusai sembahyang, “Memilih itu kita hidup”. Milih abu-abu, putih, hitam sekalian atau bunglon?

Bagiku semuanya berdiri, berjalan di ruang waktu berbeda. Kemunafikan juga berhak memiliki waktu dan jalannya. Begitu juga kodok ngorek. Toh bagaimana bisa, wartawan yg rajin menghadap Tuhan lalu selepasnya shalat mau berpikiran jahat? Memeras pejabat semisal atau seorang bandar togel. haha …..

Korupsi diri. Barangkali masalah terbesar hidup di Indonesia ini. Lepas dari kompleks bagian kehidupan. Hidup penuh konflik batin, dengan ujung tombak kematian begitu dekat. Di tangan sendiri. Kata ibarat pedang di pangkal—sejatining diri. Tinggal menunggu terpicu pelatuknya. Dor !!

Lagi, aku melulu diam saja waktu tulisan ocehan masturbasiku nge-share di BBM grup. Bukan iseng. Sontak tersentil omongan Yoga, ‘mari ngentut ta San ?’. “Iyo Mas, mosok sehampar rindu entute krungu sampai Panjen”. Hahay

Siapa mau mati? Chairil Anwar tidak : Aku mau hidup seribu tahun lagi. Sama. Pun aku, dia dan banyak orang nge-klaim jadi “binatang jalang”. Begitu wartawan yang kuyakini jika 8 dari 9 itu suka amplop, kita sama-sama binatang jalang.

Sebuah cerita koran lokal semisal. Bergaji jauh di bawah rata-rata gaji UMR kotanya sendiri. Haruskah tunduk pada orang berduit ? Selembar kertas yang nominal gajinya kalah sama loper koran. Bukan masalah besar dan bahwasanya konflik batin kami tidak semua orang mengerti atau sekedar mau.

Makanya tidak keliru aku tanyakan dia—soal bagaimana sikapnya jika aku lalu mendadak hilang kabar, selamanya. Jadi wartawan kriminal itu paling dekat dengan kematian, kehidupan, kemunafikan bahkan keajaiban.

Di kota sebut saja kota nan malang, cara mati itu murah, mudah malah kadang perlu. Seorang preman pernah bilang, “Lewat situ, telpon xxxxxxxxx, bayar Rp 250 ribu beres wes, “ katanya sambil cengar-cengir bergaya khas berkacak pinggang.
Jangan heran lantas sering mayat mayat bernama X disebut-sebut mati tanpa kejanggalan. Lain lagi menyebut T4—tidak tinggal menetap alias gelandangan.

Siapa tidak bergidik, jika banyak pembunuh bayaran berkeliaran ? Pernah dulu, seorang buruh tani di belakang pasar mengaku sempat merekam pembuangan mayat dari glangsi. Dibuang bak sampah.
Si mayat bertato, lehernya berlubang dua sisi. Kakinya pincang sebelah. Kata seorang Ajun Komisaris Polisi itu mati wajar. Mungkin terbentur batuan sungai. Duh, petrus (penembakan misterius—tahun 1970-an) masih ada. Gaya lain.

Lain lagi, preman sok ingin bunuh temanku. “Weruh iku mobile wes ta tabrak, “ pungkas ceramahnya memekik bernada guyon. “Yo ojo Mas, aku ndek jerone mobile. Mosok gelem kilangan dulur ?” senyumku kecut menahan keluh.

Bersyukur temanku selamat. Sayangnya tidak untuk preman bertato pincang. Kata seorang preman lain, dia pelaku kawakan. Apa ya harus gitu. Dia bukannya manusia?

“Makanya dik. Apa yang kau pikirkan, rasakan waktu aku hilang kabar. Aku mati semisal ?” Waktu sudah puncak malam, listrik masih padam. Tak ada jawaban.

Mungkin sampai besok siang. Nyanyian dzikir kodok dan jengkerik kalahkan gemericik air got dari bawah rumahku. Baru kusadari perjuangan almarhum bapak. Bayang-bayang terlukis jelas di tembok papan gerobak sampah.

Dalam hati, wartawan mana beristrikan Ikhlas ditinggalkan sewaktu-waktu? Istri dan wanita mana yang mau dimadu waktu karaoke sama purel ? Atau wanita mana yang menerima kerjaan wartawan kriminal—yang mungkin saja waktu berasyik-masyuk, musti tuntas. Belum klimaks sungguh.

Kopiku dingin. Kudengarkan raungan hati. Kodok ngorek tetap menyanyikan sehimpun ketulusan, mungkin juga doa…

Ditayangkan memoarema.com pada Rabu, 24/04/2013 23:54 WIB

No comments: