Wednesday, December 10, 2008

Hujan Desember

Desember. Surat tuk Putri Paramata

Kau sendirian di malam itu terjaga.lalu berkata, aku tidak bisa tidur. Sabarlah Dik. Hidup masih kita jalani. masih ada waktu. masih ada tempat. nafas masih berhembus. kau sakit, akupun sakit. semua di dunia ini pun pesakitan. entah. dengan apalagi doa musti kita sampaikan. pada Hyang Maha Penyembuh. Cukupkah airmata yang mencintai Utie? hingga redanya hujan. kita masih asyik bersenda. saling mengirim senyum. pada angin malam. pada rintikan basah terakhir. doa kita pun lelap...Semoga.

Tuesday, October 7, 2008

Terjatuh Lagi "yang Misterius"...

Sabtu,4 Okt 2008, Pkl 03.00 aku keluar dari Polsek Sumber Manjing Wetan. Tidak mendapat bahan berita sedikitpun. Hanya ada taruna 363 baru dan informasi kalau ada orang tenggelam di pantai Sendang Biru (laut Selatan). Selain Tim SAR, ada pula Kapolres yang mengunjungi TKP (sekalian wisata kalee). Sebenarnya ada niat buat juga nampang di TKP. Masak Komandan besar tidak didampingi wartawan. he he he.
Turun dari Polsek, menuju ke Selatan, sekitar 2 Km, tujuanku berubah, gara-gara melintas mobil Provost balik ke Utara (jangan-jangan Kapolres ada didalamnya!). Akhirnya akupun berbalik kanan, bermaksud pulang. dan...brak!!! kepala bagian belakangku serasa berat,...sangat berat dan pusing...
Tiba-tiba aku tersadar di rumah yang sepertinya tidak asing. ya di rumah orang yang sepertinya sudah kukenal jauh sebelumnya. Tapi aku tidak kenal nama-nama mereka disitu.
aku cuma bisa bengong. Guyon terus mengalir sama Arik (Provost Rindam) juga ibu dan istrinya, wajahnya tidak asing. Darinya, aku dapat cerita kalau aku baru saja kecelakaan (terjatuh) dan berjalan sendirian menuju rumahnya.
Aku sungkem sambil menangis ke orang-orang disitu, dan bicara yang tidak umum. Arik yang kekar bilang "'kamu bilang kalau kamu sudah mati berkali-kali, kamu pernah hidup di tahun 2008, malah katamu kamu udah kenal dengan aku dan mertuaku' itu katamu kemarin (malam hari, Sabtu)" cerita Arik.
Aneh. Aku tidak ingat sama sekali sudah bilang seperti itu, tapi rasanya aku pernah mengucapkannya. Syukurnya, aku masih selamat. Tidak mati! padahal daerah sana terkenal rawan pembegalan dan pembunuhan! motorku tidak hilang. Tapi kamera dan uangku raib, juga tas besar Shicataku! syukurlah aku masih selamat. Masih Hidup.
Apa yang terjadi? aku hanya bisa menyadari...aku belajar terjatuh dan mensyukurinya
aku mulai dari nol. menjadi wartawan dan masih mencari sejatining Batin. Amin
"San...jangan suka mengada-ada" ujar Arik. Insya Allah Mas. kuusahakan tidak lagi dan dikurangi!

Saturday, October 4, 2008

Maaf

Maaf untuk siapa? Siapa yang selalu memaafkan? Memberi maaf adalah untuk memaafkan diri sendiri dari kebencian yang membelenggu diri. Memberi maaf orang lain sama dengan memaafkan diri kita sendiri. Menerima maaf dari seseorang adalah memberikan peluang kepada diri kita pribadi, untuk belajar mudah memaafkan dan peluang untuk mendekatkan diri kepada Hyang Maha pengampun. tapi satu. tapi satu yang tidak akan pernah saya maafkan! kekasihku yang sangat amba cintai. Maaf Kris...

Monday, September 29, 2008

Maaf

Memaafkan orang lain sesungguhnya bukan untuk memberikan peluang kepada orang lain saja. Namun juga untuk diri seorang yang memaafkan, memberi peluang untuk memperbaiki diri.

Wednesday, September 17, 2008

tidak ada judul

Cinta hanya untuk pujangga
dan seseorang yang jatuh cinta
atau seseorang yang belajar mencintai Cinta
itu sendirian

aku masih belum juga jatuh cinta kembali
suatu waktu nanti

Friday, September 12, 2008

Bosan

Bosan nulis puisi melulu
kapan nyajak berita kenyataan Bung !

Monday, September 8, 2008

Kuusahakan Tenangi

Kuusahakan tenangi dunia
jurnalisme...
yang penuh konflik batiniah
jasmaniah, rohaniah, bilahiah
aah...hidup itu betapa ini...

Sunday, September 7, 2008

aku dan kau bersamalah


.......................bersama tinggallah
masa lampau
kenangan klasik.......................................
.......................kini memburu
bayangmu....
kelabu dirintik hujan rindu

Cinta Itu Sendiri

Cinta Itu Sendiri, Kini
Berjalan sendirian
dideru pusara waktu
bersijingkat
dirisau mendung
lengang memanjang
tak tentu kapan usai
reda rindu
kembali, sendirian


Malang, 2007, Mengenang Masa Puasa di Jogja
(masih berkasih dengan KJ)

Saturday, August 30, 2008

barangkali



Barangkali Cinta itu
Barangkali senyuman manismu yang lepas
Kecupan lembut dikening kekasihmu
Tatapanmu yang teduh
Barangkali airmata
tangismu yang jatuh
Saat yang kausayangkan
pulang Selamanya
Barangkali pelukmu yang hangat
Jabat salammu yang erat
Barangkali duka bahagia itulah
Cinta itu
tak sanggup kutahantahankan
untuk jatuh dan basah
Tembang sepi dalam kalbuku
Gemuruh dalam jiwa
Barangkali hanya dengan mimpi
Barangkali hanya dengan senyuman
Barangkali hanya dengan mengenang
Barangkali hanya dengan usap tangisan
Barangkali hanya dengan mencintaimu
Aku mampu berjalan dengan masa lalu
Larapun tersenyum hanya padamu
Malang, Agustus 2008 mengenang pertemuan Agustus

kutawarkan mawar padamu semata


Purnama di Balik Mendung


Senyum mendungmu tak asing ditatapku
hanya prasangka kemarin dulu
kini jelma menutup kalbu
Dan
sekejap Aku terduduk
tundukkan Hati sendirian
Di pusara badai kenangan
Yang tak urung kutahantahankan
Kini Basah habis-habisan
Apalah daya
Pejampun Luka menganga
Sedang Purnama rembulan
Yang pernah jadi saksi samasama
Dibalik mendung
Sebelum embunan terjatuh
Aku lebih dulu rebahkan
Rindu demi rindu
Malang, Agustus 2008 : mengenang Purnamasidi

Wednesday, August 6, 2008

Kucing yang Bijak

Kau begitu bersahaja
hanya diam sederhana
berpejam sendirian
seakan hidup penuh mimpi
yang tenang hehing bening

Kau duduk hangat manja
tak ada tatapan nasar
atau tatap risau
seakan hidup teramat dekap

Kau sendekapkan kukumu
seakan enggan tunjukkan betapa
tajamnya marahmu

Kau begitu bijaksana
tak abaikan waktu
yang memburuku
tuk segera pulang

Seakan malam senantiasa datang
Seakan siang enggan bangunkan mimpimu
dan aku sibuk memandangmu
siapa yang kaurindukan?

Malang, 6 Agustus 2008

Saturday, July 12, 2008

Tugu Itu Mengenang

Selepas Rindu

: Kristin J, Kekasih yang hadir pada mulanya


Malam separuh purnama

Angin meniup lembut taman kota

perlahan seketika

senyummu mekar

turut teratai teratai basah

akrab senyummu

dalam diri memanggilmanggil

melepas rela, kekasih

kalbu kian lugu tertatih

dan aku lupa melulu

bahwasanya puisi tak cukup

bicara cinta

hanya berbara sehampar doa

hidup yang selalu kini

kita bukan kenangan

dan lekaslah kembali

Kekasih

16 Mei 2008 Malang


Aku Tak Kabarkan



Aku Tak Kabarkan


Aku tak mengabarkanmu sebagai masa lalu

atau tuk mengenang hidupmu yang beku

Karna lalai dan lupa pada diri

Sesungguhnya


Aku tak mengabarkan angin

Hingga ia mampu berpulang

Ke rahim ibunya


Aku tak kabarkanmu

Karna kerentaan waktu

Atau keriput airmata

Yang jatuh darimu
Dalam pengakuan

Maafkan saya

Telah mencuri !

demi Tuhan


Dan Apalagi yang kukabarkan

Selain permohonan Ampun Amba


Malang, 30 Juni 2008, Dinoyo


Saturday, June 28, 2008

Aku Menjadi Kini

Masih bertahan dan berjuang dan belajar terjatuh dan terjatuh dan terjatuh dan aku menjadi kini sebagai siapapun. bukan diriku sendiri tapi segalanya. yang satu sahaja. Insya Allah

Saturday, June 14, 2008

Sajak Pada Ayuempuan

Pada Ayuempuan

: K J
Kata apa yang sungguh mampu kita sanggupkan
Untuk betapa cinta
Padamu
sebagaimana ucap yang sungguh bisa kusempatkan
untuk betapa seru
padamu
diampun aku berduka
pejampun semakin
kau kian
ada


Malang 2008 June

Sajak

Akulah Airmata Terjatuh
: dari KJ

Karna ada yang tak sempat sampai
Aku terjatuh
Airmata dari musim semi
Duka yang tiap kali kutemui
Dalam pertemuan kita
Karna ada yang tak kunjung bisa
Kuluruhkan
Luka dari musim gugur
Kehilanganmu
Hanyalah mula-mula
Biar aku jatuh
Basah
Mereda
Dialir waktu
Susut
Jadi musim yang reda
Seperti saat mulai kaurelakan
Kepergian pertemuan

juga kenangan

Malang 2008-04-30 KJ