Tuesday, September 17, 2013

Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI)




Tumbuhkembangkan Kesadaran Menjaga Martabat


Selasa (17/9) pagi, H Soebagijo Ilham Notodidjojo meninggal dunia di usia 89 tahun. Tokoh pers penulis buku “Jagat Wartawan Indonesia” adalah legenda dan kebanggaan masyarakat pers di Indonesia. Masih teringat surat almarhum yang memberi motivasi saya agar terus bergairah, gigih dan menjaga martabat profesi....

Tergelitik benak saya dan mungkin dialami beberapa peserta saat menerima materi pada Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI) (2/9) – (12/9). Faktanya, memang ada di luar sana, orang-orang yang mengaku wartawan, wartawan yang mencari duit (atau iklan--red) semata-mata dan bukan mengabdi pada kemanusiaan....

Perlu diketahui masyarakat bahwa tidak semua para awak media bisa diberi uang atau iklan sebagai "penutup" sebuah berita dari peristiwa sehingga tidak dimuat media. Meski tidak menampik fakta, beberapa wartawan di lapangan diantaranya berusaha akur dengan konflik batin dalam diri. Salah satu faktornya karena beritanya “diredam” kebijakan redaksi atau kepentingan penguasa.

Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI) yang menghadirkan pemateri-pemateri senior seolah menepuk pundak gairah idealisme 22 peserta aktif. Tiga bahkan empat pemateri berulang kali menyerukan sub topik yang sama menyoal ‘intervensi' kepentingan. Sementara wartawan "sungguhan" akhirnya musti belajar independen dan tetap menjaga kehormatan.
Ashadi Siregar semisal, dosen ‘pantang pensiun’ meski berusia lebih dari 65 tahun itu lantang menyarankan seorang peserta agar tidak berdiam diri. "Bila situasinya seperti itu, Anda keluar saja. Anda (wartawan) boleh saja frustasi, saat ditekuk-tekuk (kepentingan--red) " ungkap Ashadi, Senin (2/9) saat memberikan materi filosofi dasar profesi Jurnalisme di kantor PWI Malang Raya.

Ashadi Siregar, pengarang novel “Cintaku di Kampus Biru” itu menyebut bahwa media pasti dipengaruhi berbagai kepentingan, terlebih media juga berperan sebagai lembaga ekonomi, lepas itu media besar atau kecil. Intervensi ini pula masuk ke redaksional koran kecil yang biasanya bertahan dari pendapatan iklan. Media tersebut terkadang goyah atas tawaran "pemblokiran" sebuah kasus sehingga barter dengan iklan atau kerjasama tertentu.

Intervensi kepentingan 'berduit' itulah menjadi pemicu frustasi wartawan-wartawan sungguhan yang berusaha sungguh-sungguh bekerja demi kepentingan publik dan kebenaran. Wartawan model seperti itu biasanya cukup sulit akur untuk diminta mencari iklan, apalagi menulis berita--yang belakangan hanyalah persoalan iklan—semisal pencitraan positif seseorang atau sekedar berita pengganti berita peristiwa lain.

Jadi mafhum, kepentingan 'berduit' turut campur di ruang redaksional. Intervensi  berpengaruh terhadap keberpihakan media. Terkadang, tekanan "sesungguhnya" inilah benar-benar menjadi beban yang kerap ditanggung wartawan junior atau wartawan senior yang berpegang pada nilai-nilai jurnalisme.

Pemakluman tersebut tentu menimbulkan pertanyaan besar. Sudahkah wartawan berada di media yang benar-benar profesional, independen, kritis dan berintregitas sebagai pengawas kebijakan pemerintah (koran putih—red). Di lain sisi, kondisi ekonomi pas-pasan tempat bekerjanya menjadi persoalan utama puluhan karyawan lain.

Intervensi berupa bargaining iklan atau tersingkirnya nilai independensi seolah diperkeruh oleh perilaku oknum wartawan dengan "mengelu-elukan seorang pejabat (pemilik kepentingan)". Pendek kata, wartawan memperdagangkan informasi—sebagai wujud keberpihakannya—telah mengaburkan makna, profesi atau pedagang.

Sangat jelas Sabam Siagian, Senin (9/9) lalu lantang berujar, "Jangan sekali-kali bersikap memalukan martabat wartawan, dengan memuji-muji pejabat. Peran media untuk memperbaiki kinerja aparat, " papar Sabam, mantan duta besar Australia yang berusia 81 tahun layak dihormati dengan semangatnya memberi materi 'hubungan pers dengan pemerintah’.

Tibalah agar dimengerti masyarakat, pembaca, instansi formal, bahwa tidak semua wartawan bisa menerima atau ditawari iklan. Masyarakat juga perlu mengerti jika belum tentu media yang menerima iklan, memiliki wartawan 'gampangan'. Uraian para pemateri seolah isyarat harapan besar agar wartawan muda menjaga idealismenya dan menjaga jarak dengan pejabat.

Faktanya, faktor ekonomi si kuli tinta dan kondisi ekonomi media juga tidak menentukan pengkondisian seorang wartawan. Kata lain, wartawan saat menjalankan tugas jurnalistik secara profesional memiliki hati nurani untuk menolak suatu penkondisian.

Ia lalu mencari, memperoleh, menggali, mengolah, mendokumentasikan dan menyampaikannya kepada redaktur. Setidaknya wartawan berusaha di titik tugasnya untuk memperjuangkan kepentingan publik yang lebih besar daripada menerima persenan honor iklan. Meski kemudian, berita tersebut masuk ‘tong sampah’.

Besar harapan agar masyarakat memahami persoalan ini. Bahwa terdiamnya wartawan lapangan tidak lepas dari berbagai kepentingan, sementara ia hanyalah seorang karyawan kecil atau prajurit yang siap berkorban tanpa berharap kemenangan bagi dirinya sendiri.

Sabtu (7/9) sesi materi pertama, Hendry CH Bangun, yang pernah menjabat sebagai Sekjen PWI Pusat 2008-2013 menyebut kerja wartawan adalah pilihan hidup. Hal ini berarti menekankan tanggung jawab besar berada di pundak wartawan (bukan redaksional). Pertanggungjawaban yang diatur dalam diri wartawan yaitu hati nurani.

Tanpa bermaksud menyindir, wartawan selalu menjadi pelaku sekaligus korban konflik batin dan kegigihannya demi sebanyak-banyaknya kepentingan. Mereka terus berjuang seperti harapan yang tersirat dari isi surat almarhum H Soebagijo IN. Selamat jalan dan terimakasih Bapak... (Santoso FN)


Friday, December 21, 2012

Ramalan

Hari ini, tanggal 21 Desember 2012, sebagian orang menyimak ramalan suku Maya tentang kiamat. Pembuktian yang konyol karena hari ini, matahari bersinar seterang-terangnya.... menerangi semua Makhluk Tuhan... siapapun itu

Wednesday, December 19, 2012


* Peringatan Hari Difabel Sedunia (3 Desember)

“Danpincuk Pengidola Gus Dur 
Yang Mau Merangkul Semua”


Tanggal 3 Desember kalangan publik internasional memperingati hari Difable (hari Cacat Sedunia). Banyak isu kemudian menyelimuti para manusia yang ‘dianugerahi’ kekurangan oleh Tuhan YME di dunia, termasuk di Indonesia dan salahsatunya di pundak Danpincuk (Komandan pimpinan pucuk) kader lingkungan di sudut desa Mangunrejo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang.

Kekurangan fisiknya berupa cacat bawaan lahir—kaki sebelah kanan bagi M Sodiq (42) merupakan anugerah untuk perjuangan hidup demi keluarga, anak-anaknya dan lingkungan serta bersosial kemasyarakatan.   

Pelan, tegas, lancar penuturan M Sodiq membagi wawasan pengalamannya kepada sejumlah wartawan, kemarin siang saat ditemui di sebuah warung kopi. Ditawari sebatang rokok, ia menolaknya halus. Pria sebagai imam bahtera keluarganya dikaruniai dua putra sejak menikahi Umi Wahyulestari (39) seorang guru PAUD. Ahmad Ma’aruf Al Khirqi (15) dan Abdurrahman Wachid Add Dhakhir (3) dibimbingnya menjadi anak yang berbakti.

Tiga tahun lamanya, Sodiq turut menjalankan roda ekonomi keluarga dengan menjajakan produk krupuk Ramba’an “AA” ke sejumlah toko besar lintas Kecamatan. Semua aral hidup dilakoni Sodiq dengan ikhlas dalam kondisi hanya berpijak dengan satu kaki kiri. “Kekurangan saya ini adalah anugerah. Saya dapat sejak lahir. Jalan saya sudah digariskan yang Kuasa, “ tuturnya.

Sembari menaruh tongkat kayu, pria yang keluar dari perkuliahan fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang ini mengungkapkan jika sejak lama ia sudah getol di bidang organisasi. Selama menjadi mahasiswa pun ia tidak sekali dua kali turut berunjuk rasa, terutama persoalan maraknya SDSB dan penggantian Bemo dengan Angkot.

“Saya lahir di Jatirejoyoso, SD di sana, Mts dan Aliyah di Pasuruan. Sejak sekolah, saya jadi ketua kelas, ketua Osis, dengan kondisi kekurangan saya, tidak ada kendala, “ sebut Sodiq. Perjalanan keluarga Sodiq sempat terombang-ambing pada sekitaran 2002, hingga kemudian berbalik merambat naik atas perjuangan Sodiq.

Kini Sodiq ibarat ‘gak krasan ndek ngisore genteng’ (Tidak betah di bawah genting—red) lantaran sering beraktifitas tanpa mengenal lelah. Sejumlah aktifitas keorganisasian kemudian turut tersisip dalam kehidupan Sodiq sebagai pengabdiannya untuk lingkungan sekitar. Sederet aktifitas, diantaranya tercatat sebagai pembina LP3L Desa Mangunrejo, kordinator PNPM perkotaan Mangunrejo dan Danpincuk kader lingkungan serta memberikan pembinaan ‘Bank Sampah’ di desanya tinggal.

Di mata Sodiq, kekurangan tidak dapat dijadikan alasan berhenti berjuang. “Jauh sempurna saya tapi saya bersyukur karena tidak lontang lantung. Saya “tidak melihat terus ke bawah”, kalau “mendongak terus ke atas” juga akan sakit. Kekurangan saya jusru menjadi solusi, “ ungkap filosofis Sodiq yang mengartikan pula bahwa terus bekerja dan berguna bagi lingkungan adalah pilihan penting untuk membuat sebuah perubahan daripada mengeluhkan masalah kompleks kehidupan.

“Di bidang organisasi, saya tidak mengharuskan diri sebagai ketua. Saya sudah cukup bersyukur dapat berguna untuk lingkungan. Adanya Bank Sampah, bisa berguna dan membantu warga desa, “ papar Sodiq yang mengidolakan sosok almarhum Gus Dur—sapaan akrab Abdurrahman Wachid—presiden ke-3 Republik Indonesia. Kenapa Gus Dur? “Gus Dur itu unik. Dia bisa merangkul semuanya. Siapapun. Agama Islam dimaknai sebagai rahmatan lil alamin, “ urai Sodiq. 

Sebagai orang berkaki satu, adakah ia sering dilecehkan seseorang? Ia lalu menceritakan pengalamannya membeli barang di salah satu pasar Kepanjen. Bukannya dilayani penjual, Sodiq malah diberi selembar seribu rupiah. Terangsaja pelecehan ini membuat Sodiq menahan amarah dan hanya mengucapkan bahwa dirinya sanggup membeli bedak di penjual.

Menurutnya, pelecehan, diskriminasi dan ‘pengurangan’ daya kreatifitas sering dialami kaum difable di Indonesia. Adanya pengumpulan komunitas orang-orang termasuk difable, dinilai Sodiq sebagai pengkerdilan dan ‘pelecehan’ kaum difable. “Tidak seharusnya mereka dijadikan ajang mencari proyek. Mereka seakan ‘direndahkan’, seperti ‘dikurung’ diajari membuat sandal, kerajinan. Itu bisa membuat mereka tidak percaya diri, ‘seperti katak dalam tempurung’, “ papar Sodiq.

Ia melanjutkan pandangannya, “Lihatlah realitas, masyarakat. Kebanyaan mereka melihat orang yang cacat sebagai kelemahan. Mereka itu sebenarnya bisa, kita bisa memberdayakan diri, “ tambah Sodiq, anak ke-lima dari 9 bersaudara. Pelecehan terhadap difable kemudian disebut Sodiq telah merasuki sistem pemerintah, terutama penyelenggara pemerintahan.

Kondisinya yang “kurang satu kaki”, sesungguhnya tidak menyita perhatian sedikit dermawan. Sejumlah tawaran pemberian gratis kaki palsu kemudian bukan berarti ditolak mentah-mentah lantaran tidak mengandung ketulusan bagi seorang Sodiq.

Sekaliber Andy F Nayoan (program Kick Andy) pernah pula ditolak Sodiq. Di mata Sodiq, adanya kaki palsu sama dengan pengejawantahan dari penipuan yakni menipu diri sendiri dan orang lain. Pemakaian kaki palsu menurut Sodiq tidak memiliki esensi nilai tambah bagi perjuangan kehidupan.

Sepele, baginya, pemakaian kaki palsu dapat merepotkannya ketika melakukan aktifitas rutin sepreti masuk ke dalam kamar mandi. Dimengerti maksud Sodiq, apapun situasi diri, ia berharap adanya kejujuran dengan penampilan apa adanya.
“Tidak ada nilai tambahnya. Malah merepotkan. Bagi saya, itu mempersulit kita masuk WC. Ketok’e gagah, tapi itu menunjukkan esensi penipuan, “ sebut Sodiq yang juga mengidolai sosok Mahatma Gandi, San Su Kyi. 

Pria yang tidak suka merokok ini kemudian mempertanyakan rasa toleransi perusahaan swasta bagi para difable atau kaum ‘kekurangan’. Salahsatunya di bidang pekerjaan, kaum difable sering mendapat perlakuan diskriminasi. Tidak sekali dua kali, ia menghujat bahwa diskriminasi dilakukan pihak penyelenggara pemerintah, terutama dalam bidang pekerjaan atau penerimaan pelamar kerja.

Diterangkannya, lowongan kerja sering mencantumkan persyaratan bahwa pelamar kerja diharuskan sehat jasmani dan rohani. Kalimat sehat jasmani dan rohani rupanya hanyalah bahasa lain dari ‘korupsi’ esensi arti kata sehat itu sendiri. Sebab kata ‘sehat’ dimaknai para penerima pelamar kerja dengan sehat secara utuh bagian tubuh tanpa kekurangan.

“Sehat dimaknai harus lengkah jasmaninya, saya tidak sepakat kalau itu kemudian dimaknai kekurangan bagian atau fungsi tubuh. Kondisi kekurangan seperti saya ini bukan penyakit, “ papar Sodiq yang usaha bisnis krupuknya juga dibantu enam keluarga janda. (Santoso Fn)