Sunday, February 8, 2015

Jurnalis Bukan Profesi Ekslusif 

Lima tahun lebih menjadi penulis rekontruksi di selatan Kabupaten Malang, tidak membuat saya lebih jelas memandang seberapa parah kehidupan. Beberapa hal mengaburkan batas pandang antara kebenaran dan kebaikan. Saya sepakat, kenyataan pahit pun musti dikabarkan. Belum tentu benar itu baik, kebaikan itu benar.

Seorang polisi pernah mengatakan, bila ia menjalankan tugasnya sebagaimana aturan berlaku dan nurani, maka akan banyak orang ditangkapnya. "Bila mata terpejam, semua bisa ditangkap, bila mata terbuka, tidak bisa kita menangkap semua orang karena kesalahannya".

Seorang rampok juga pernah berceletuk, "Tidak semua orang saya jambret". Preman yang saya kenal pun menyebut "bila seorang maling pun punya rejeki dari Atas. Tidak perlu berlebihan merasa memiliki arti".

Dalam hati, aku menerima pernyataan-pernyataan itu. Suatu yang berlebihan selalu tidak baik. Memandang sesuatu, membela kebenaran dan kebaikan pun tak 'seharusnya' total berlebihan. Mengalir saja, tanpa tujuan dan alasan, kadang perlu dikandung diri. Ikhlas, sehingga tidak terlalu fatal bersalah jika ada "kepentingan lain".

Menjadi wartawan, "Semua peristiwa dan kejadian bisa saja dikabarkan. Tapi tidak semua baik dikabarkan". Nanti, tergantung rasa malas, mood, pertimbangan lain dan sanksi juga kekuatiran dampak. Tanpa "membaca" dampak berita, seorang wartawan menjadi bodoh. Lebih-lebih jika berdampak pada kemanusiaannya sendiri.

Dari lima tahun di selatan, saya mempelajari karakter beberapa macam wartawan. Motivasi mereka, gaya, teknis dan pilihan-pilihan mereka. Adakala seorang wartawan menjadi "abu-abu", kalah dengan situasi, tunduk pada uang, terseret arus, berpolitik, membela kepentingan besar ataupun terbiasa menjadi biasa saja.

Ada wartawan dan jurnalis. Tanpa membedakan esensi kerjanya, Saya sepakat menyebut wartawan adalah pekerjaan memberitakan peristiwa 'terpilih' rutin. Lepas dari kesadaran personal seperti pada kemanusiaan ataukah kebenaran. Sedang jurnalis, musti menjaga kesadaran akan dua hal itu.

Artinya, wartawan bekerja sebagai pelaksanaan tugas pokok sehari-hari. Memberitakan peristiwa. Sementara jurnalis menyisipkan 'nilai-nilai' humanis dalam karyanya, senyampang alam bawah sadar--membela kemanusiaan, menentang keadilan dan menjalankan fungsi media sebagai sosial kontrol, edukasi.

Nilai signifikan produk wartawan, menurut saya perlu menekankan nilai sosial kontrol dan edukasi. Ya, sebab menurut penulis, lebih baik berkarya tidak sekedar menyampaikan nilai informasi dan entertainmen. Nilai sosial kontrol, edukasi, kritik dan perbaikan sistem yang bobrok menjadi keutamaan tujuan jurnalis.

Di selatan, sebatas pembagian karakter dari motivasi kerja. Masing-masing bekerja selayaknya wartawan. Meski tidak semua melaksanakan nilai sang jurnalis. Dua hal dapat menjadi contoh yakni tidur, makan, guyon. Hanya orang-orang tertentu, wartawan berdiskusi, "menularkan ilmu", menyebar wawasan. Semua tidak lepas dari motivasi kerja dan karakter personal.

Tiga model wartawan yakni wartawan biasa, sibuk, setengah hati. Wartawan biasa akan melaksanakan pekerjaan sesuai porsinya. Wartawan sibuk selalu memanfaatkan waktu untuk berkarya. Entah karena memandang kemanusiaan ataukah kepentingan tertentu. Ada pula setengah hati. Ia memilih "tidur" ataukah liputan bila ada mood.

Dari sudut waktu, ada wartawan sesuai jam kerja atau setengah hari (8 jam kerja), wartawan kala-kala sesuai pilihan mood atau nilai bobot berita dan ada pula wartawan silaturahim. Pada momen tertentu ia datang. Menyapa dan bersalaman.

Nah, status seorang wartawan juga menentukan nilai kerjanya. Kecenderungan sudah berkeluarga, boleh jadi wartawan siang-sore yang "tidak mungkin" melihatnya di TKP jika peristiwa malam hari. Adapula yang tergantung mood meski statusnya sudah beristri. Kecuali acara kebersamaan semisal karaoke malam.

Dari sudut pentingnya menjaga relasi, ada wartawan yang menyadari pentingnya menjaga sumber informasi. Ada pula yang tidak menyadari tapi 'membeo' wartawan sosok pertama--karena kualitas skill kurang mumpuni dalam hal komunikasi pengaruh mempengaruhi.

Luasnya geografis kabupaten pula mendorong seorang wartawan musti memilih berkelompok ataukah memilih "berjalan sendiri". Sosok single fighter kadang dikarenakan dua hal, pertama kemauannya belajar, kedua karena kemampuannya. Kelompok wartawan bergerombol secara tidak langsung menunjukkan bahwa budaya gotong royong dapat meringankan pekerjaan.

Lalu apa masalah dari uraian penulis? Saya tidak menyampaikan persoalan karakter wartawan, cara kerja ataukah pilihan berita berdasar mood dan pembacaan dampak atau pelaksanaan fungsi media. Aku hanya membeberkan opini dari pemandangan di selatan. Lalu apa sebab ada pengaburan pandang dan "kegagalan" menangkap parahnya kehidupan?

Sekedar beropini, berkehidupan, bermasyarakat tidak bisa lepas dari kepentingan-kepentingan. Kepentingan-kepentingan ini kemudian berpengaruh langsung tidak langsung pada wartawan atau jurnalis. Penulis ragu terhadap kesadaran wartawan apakah ia menyadari apa yang telah dilakukannya, ketika berdiri cenderung di sisi kepentingan tertentu.

Ada tiga kepentingan perlu diperhatikan. Pertama kepentingan pribadi, kelompok dan masyarakat. Kepentingan pribadi bisa saja melibatkan penguasa atau orang berduit. Kepentingan penguasa yakni orang-orang besar yang memiliki tiga hal. Uang, massa dan jabatan.

Pertanyaan muncul di jaman edan seperti sekarang. Cukup bijakkah seorang wartawan memilih terlibat kepentingan-kepentingan itu tanpa menjaga esensi pekerjaannya. Apakah ia atau mereka membela nilai kemanusiaan karena kepentingan penguasa? sadarkah akan menjaga martabat profesi dan nilai etik jurnalis universal?

Tergelitik saya ketika seorang wartawan kota menulis status BBM-nya : "tidak mudah belajar menjadi pelacur...". Bila ada konflik batin dikandung wartawan, boleh jadi ada kegusaran diri atas pilihannya baik ataukah benar. Sedang jika tidak ada konflik batin sedikit pun, maka perlu dipertanyakan motivasi dia menjadi wartawan.

Sebatas mengingatkan, kode etik wartawan menyebutkan nilai independen dan obyektif. Sudah cukupkah wartawan independen? Sementara martabat seseorang bergantung pada "pakaian". Etika wartawan merupakan pakaian. Bila ia 'telanjang', maka buruklah martabat dia dan bisa saja disebut orang gila.

Tengah malam lalu, saya benar-benar bersedih. Seseorang entah siapa mengirim SMS, "Kamu wartawan tidak punya etika, wartawan gila". Timbul gejolak diri sesaat. Dari beritakah yang tidak obyektif ataukah gaya atau karakter saya. Saya pun kuatir apakah dikarenakan adanya stigma buruk seseorang akibat budaya berkelompok ataukah pilihan menjadi single fighter.

Saya lalu membalas sms tersebut dengan permohonan maaf bila ada berita yang tidak obyektif dan menawarkan hak koreksi bila ada kesalahan tulis. Sedang untuk etika diri, saya menyampaikan bahwa gaya karakter pribadi memang seperti itu. Yang jelas, saya belajar berubah dan memperbaiki diri. Terus menjaga sekuat tenaga profesi dan martabat--dengan meminimalisir "menjual" diri atau "berita".

Selamat menjadi wartawan atau jurnalis, saudara. Pekerjaan kita adalah ibadah kepada Nya. Kita tidak harus menjadi pelacur, pedagang atau lebih rendah dari orang gila. Kita bukan siapa-siapa. Semoga berita kita menjadi amal dan saksi kelak apa yang sebenarnya dikandung niatan hati.  Amin

Untuk 9 Februari 2015, tetap berjuang, Malang

Tuesday, July 22, 2014

Kodok Iseng Sendiri

“Hai, kodok ngorek, siapalagi yang masih mendengarkan nyanyian ketulusanmu ?”celutuk lamunanku. Ya, mungkin cuma gemerusuk lengang jadi teman setia kita saat memuncak malam itu. Jangan tanyakan perkara ketahanan baterai Blackberrymu, terlebih listrik padam.

Baru tadi aku ngobrol soal kematian. Tapi mesti terbentur salah paham. Berkali-kali coba mengerti maksud pikirannya—yang umumnya orang—menganggapnya persoalan tabu untuk dibicarakan. Bicara soal mati itu pamali. Huh ….

Mati, siapa saja nantinya tuntas, entah kapan. Sepulang kerja, terpasang bendera putih palang hitam di gapura hitam kampung.

Tunduk tak bergeming, angin berhembus hening. Baru terpasang. Sampai di depan pintuku sendiri, entah dimana kodok-kodok ngorek itu bernyanyi. Soal hidup ataukah ajal.

Perkara apapun itu, aku sepakat. Hidup mati urusan Yang Di Atas. Tapi apa salah ataukah tidak etis mempertanyakannya pada dia—tempatku belajar membaca cinta, membaca diri, dari dalam seutuhnya.

Toh, belum sampai berkasih-kasihan, ujungnya amarah tanpa nalar. “Itu urusan nanti cox !” pisuhnya pelan, tulus.

Resiko kerjanya mati. Wartawan bisa mati. Seperti kasus-kasus di luar sana, di luar negeri. Apalagi di negeri yang apapun bisa terjadi. Tinggal kenangan, terlupakan atau sesaat saja lalu diingat kembali jadi bahan berita naif. Begitu juga aku, manusia abu-abu ini. Semoga bukan bunglon.

Teringat seorang rekan wartawati pernah bilang, “Hidup itu pilihan, kita kuli, manusia. Stres jadi bagian hidup ini bukan ?”. Seorang polisi juga sangat yakin berkata, seusai sembahyang, “Memilih itu kita hidup”. Milih abu-abu, putih, hitam sekalian atau bunglon?

Bagiku semuanya berdiri, berjalan di ruang waktu berbeda. Kemunafikan juga berhak memiliki waktu dan jalannya. Begitu juga kodok ngorek. Toh bagaimana bisa, wartawan yg rajin menghadap Tuhan lalu selepasnya shalat mau berpikiran jahat? Memeras pejabat semisal atau seorang bandar togel. haha …..

Korupsi diri. Barangkali masalah terbesar hidup di Indonesia ini. Lepas dari kompleks bagian kehidupan. Hidup penuh konflik batin, dengan ujung tombak kematian begitu dekat. Di tangan sendiri. Kata ibarat pedang di pangkal—sejatining diri. Tinggal menunggu terpicu pelatuknya. Dor !!

Lagi, aku melulu diam saja waktu tulisan ocehan masturbasiku nge-share di BBM grup. Bukan iseng. Sontak tersentil omongan Yoga, ‘mari ngentut ta San ?’. “Iyo Mas, mosok sehampar rindu entute krungu sampai Panjen”. Hahay

Siapa mau mati? Chairil Anwar tidak : Aku mau hidup seribu tahun lagi. Sama. Pun aku, dia dan banyak orang nge-klaim jadi “binatang jalang”. Begitu wartawan yang kuyakini jika 8 dari 9 itu suka amplop, kita sama-sama binatang jalang.

Sebuah cerita koran lokal semisal. Bergaji jauh di bawah rata-rata gaji UMR kotanya sendiri. Haruskah tunduk pada orang berduit ? Selembar kertas yang nominal gajinya kalah sama loper koran. Bukan masalah besar dan bahwasanya konflik batin kami tidak semua orang mengerti atau sekedar mau.

Makanya tidak keliru aku tanyakan dia—soal bagaimana sikapnya jika aku lalu mendadak hilang kabar, selamanya. Jadi wartawan kriminal itu paling dekat dengan kematian, kehidupan, kemunafikan bahkan keajaiban.

Di kota sebut saja kota nan malang, cara mati itu murah, mudah malah kadang perlu. Seorang preman pernah bilang, “Lewat situ, telpon xxxxxxxxx, bayar Rp 250 ribu beres wes, “ katanya sambil cengar-cengir bergaya khas berkacak pinggang.
Jangan heran lantas sering mayat mayat bernama X disebut-sebut mati tanpa kejanggalan. Lain lagi menyebut T4—tidak tinggal menetap alias gelandangan.

Siapa tidak bergidik, jika banyak pembunuh bayaran berkeliaran ? Pernah dulu, seorang buruh tani di belakang pasar mengaku sempat merekam pembuangan mayat dari glangsi. Dibuang bak sampah.
Si mayat bertato, lehernya berlubang dua sisi. Kakinya pincang sebelah. Kata seorang Ajun Komisaris Polisi itu mati wajar. Mungkin terbentur batuan sungai. Duh, petrus (penembakan misterius—tahun 1970-an) masih ada. Gaya lain.

Lain lagi, preman sok ingin bunuh temanku. “Weruh iku mobile wes ta tabrak, “ pungkas ceramahnya memekik bernada guyon. “Yo ojo Mas, aku ndek jerone mobile. Mosok gelem kilangan dulur ?” senyumku kecut menahan keluh.

Bersyukur temanku selamat. Sayangnya tidak untuk preman bertato pincang. Kata seorang preman lain, dia pelaku kawakan. Apa ya harus gitu. Dia bukannya manusia?

“Makanya dik. Apa yang kau pikirkan, rasakan waktu aku hilang kabar. Aku mati semisal ?” Waktu sudah puncak malam, listrik masih padam. Tak ada jawaban.

Mungkin sampai besok siang. Nyanyian dzikir kodok dan jengkerik kalahkan gemericik air got dari bawah rumahku. Baru kusadari perjuangan almarhum bapak. Bayang-bayang terlukis jelas di tembok papan gerobak sampah.

Dalam hati, wartawan mana beristrikan Ikhlas ditinggalkan sewaktu-waktu? Istri dan wanita mana yang mau dimadu waktu karaoke sama purel ? Atau wanita mana yang menerima kerjaan wartawan kriminal—yang mungkin saja waktu berasyik-masyuk, musti tuntas. Belum klimaks sungguh.

Kopiku dingin. Kudengarkan raungan hati. Kodok ngorek tetap menyanyikan sehimpun ketulusan, mungkin juga doa…

Ditayangkan memoarema.com pada Rabu, 24/04/2013 23:54 WIB

Monday, June 16, 2014



Keabadian Dolly Terkubur di Malang


Malang (Dimuat di Harian Pagi Memo Arema, Selasa (17 Juni 2014)

Beribu orang membicarakan dan “mungkin akan” mengenang Lokalisasi Dolly, tapi kenangan dan keabadian Dolly benar-benar terkubur di makam Belanda, Sukun Malang. Dolly oh Dolly,...

Ibarat “panasnya” pro kontra penutupan lokalisasi Dolly di Surabaya yang liar, begitu pula rumput liar dan daun kering di atas pusara peristirahatan Dolly—wanita keturunan Belanda-Birma yang “melambungkan dan membesarkan” nama kompleks lokalisasi ke seantereo negeri. Ya, rumah keabadian Dolly seolah dilupakan demi kepentingan politik, lahan pencarian sandang pangan. Tanpa doa dan ziarah kubur.

Memo mencatat berbagai referensi dan wawancara seputar Dolly. Diakui banyak orang, Dolly diyakini sebagai pendiri kompleks lokalisasi Dolly meski Pi’i (dilansir dari http://kelanakota.suarasurabaya.net/news/2014/135806-Papi-Dolly-Bukan-yang-Pertama-di-Gang-Dolly) bukanlah tempat bisnis “lendir” kali pertama.

Bisnis esek-esek justru “dibuahi” pribumi warga Jarak Surabaya dengan sebutan warung Tekate. Dolly sendiri hadir mencium peluang “pasar”. Ia lalu berpindah (1966) dari Jarak dan mendirikan wisma di makam Kembang Kuning dekat dengan Masjid Rahmat (gang Dolly). Pengubahan makam Tionghoa di Putat Jaya menjadi perkampungan kemudian menjadi berkah dan Dolly kian terkenal (1980-1990).

Disebut pula dalam buku "Dolly : Membedah dunia Pelacuran Surabaya" yang diterbitkan Grafiti Pers, April 1982, karangan Tjahyo Purnomo Wijadi-Ashadi Siregar, bahwa tahun 1966, Dolly menginginkan dipanggil Papi Dolly. Wisma Mami Dolly, Tante Dolly, Papi Dolly itu berawal di Pandegiling, pindah ke Kembang Kuning dan Gang Dolly.

Namun usia manusia kian “beruban” dibumbui permasalahan hidup. Ia berpisah dengan suaminya seorang pelaut. Dolly Chavid—nama pendek—Dolira Advonso Chavid berpindah ke Malang. Faktanya, Dolly berpulang di bumi Aremania pada wafat 7 Januari 1992.  Timbul pertanyaan lain menjadi “teka-teki”, apa sebab Dolly menghabiskan masa tua di Kota Malang dan keluarga memilih menguburkan Dolly di Malang?

Minggu (15/6) sore, wartawan Memo dan Aan, salah satu wartawan Elektronik berkeliling di sisi Utara dan Barat hanya untuk mencari keberadaan makam Dolly di pemakaman Belanda Sukun (belakang SPBU Sukun). Dua tiga orang sempat mengaku tidak mengetahuinya, termasuk warga kampung terdekat. Nggletek alias ternyata, makam ini tidak sulit ditemukan.

Senin (15/6) pagi, makam Dolly masih terlihat berdiri kokoh. Tiga orang penjaga dan pembersih makam menyakini dan mengenalnya sebagai Mami Dolly. “Disini Mami Dolly ya disitu Mas. Ada dua makamnya, satu makam Mami Dolly dan anaknya yang namanya Eddy, “ ungkap Masaki. “Lek nang kono, terus yo mrono Mas, (Kalau ke situ, ya terus ke sana (makam Eddy).

Makamnya tidak semewah komplek lokalisasi atau makam orang kaya lainnya. Terbilang ukuran standar biaya Rp 3-4 jutaan, makam Dolly dibangun di atas lahan seluas 10 hektare lebih itu. Bukan nama Dolly akan terbaca. Bukan pula Dolly Van Der Mert (nama orangtuanya).  Khas makam kristen, ada salip. Panjangnya 2 meteran. Rumput liar tumbuh seolah simbol tidak pernah keluarga berziarah untuk membersihkannya.


Di batu nisan yang diyakini makam Mami Dolly itu tertulis nama D. A Chavid. Kelahiran 15 September 1929 dan wafat pada 7 Januari 1992. Tertulis nama anak dan menantu, diantaranya Eddy Y, B Harianto, Sutejo, R Budiono, Andi P, Maria S. Menantunya bernama Dra Watik, Napsiah SH, Lina Darlinah, Rosa. Makam lain yang disebut-sebut biasa dikunjungi cucu atau cicit atau keluarga Dolly yakni Eduard Soukup Eddy, kelahiran 1944 dan meninggal pada 1999.

“Sejak Eddy meninggal, sudah jarang keluarga berziarah dan mendoakan Dolly, “ ungkap Masaki disamping Lesus dan Heri, Senin (16/6) sore. “Kalau ada, mungkin ya cucu cicitnya Mas, “ sebut Lesus. Masaki lalu mengaku tidak mengetahui kapan terakhir keluarga Dolly datang di Sukun.

Sementara itu, Henry (58) mengaku warga Ngreco, Sumberpucung asal Blitar mengaku sekilas mengetahui sedikit banyak soal Dolly. Dari pengalaman memijat banyak orang, Henry mendapat cerita berharga, termasuk sejarah Lokalisasi Dolly. Ia pernah bertemu seorang pelaut yang masih kerabat dengan Dolly Van Dert Mart. Siapa sangka dilontarkan Henry.

Henry mengungkap bahwa Dolly merupakan anak salah satu pejabat besar di Batavia (Jakarta masa itu). "Dulu hanya melayani pelaut dan pedagang yang singgah di pelabuhan. (keliru bila di beberapa referensi menyebut melayani tentara), " ungkap Henry. "Van Der Mart itu nama keluarganya. Dia keturunan Belanda. Ada keluarganya masih hidup, " tambah Henry. Sayangnya, ia lupa dimana letak persis rumah Dolly menghabiskan masa tuanya.

Ia lalu menambahkan dari cerita pasiennya, ada beberapa pejabat menemui keluarga Dolly. "Maksudnya minta restu. Kenapa kok sulit, " papar Henry, Minggu (15/6) siang saat ditemui di seputaran Kepanjen. Kata Henry, soal permohonan restu dan doa baik dari pihak Pro ataupun Kontra sudah menjadi isu kasep—(bahasa Jawa : Terlambat). Bagi Henry, dunia lokalisasi berwarna “hitam”.

Lepas dari kasak kusuk dipanggilnya Papi Dolly usai berpisah dengan sang suami karena sakit hati dan perdebatan pro kontra jelang penutupan Dolly (18 Juni mendatang), kenangan dan Dolly terkubur di Malang.

Mahendra PW, dalam kutipan penggalan puisinya berjudul “Kepada Doly Van Der Mart” (Kompasiana, 11 Jun 2014) menuliskan, “...Oh Dolly Van Der Mart Dengarkan pertentanganku Dan dengarkan pernyataanku Setidaknya mahakaryamu telah mengurangi jumlah pemerkosaan Juga jumlah pasangan mesum di jalanan…Tjahjono Widarmanto, penyair, pimpinan majalah Sastra Kalimas (Esai di Jawa Pos Senin 16 Juni 2014) menuliskan, .”..Dolly oh Dolly, apa pun nasibmu … nanti, kau akan abadi dalam perbincangan dan kenangan… Dolly oh Dolly. Oh, Dolly…”.

Mengutip lirik lagu “You Are” penyanyi legendaries Amerika yang kebetulan sama bernama Dolly (Dolly Rebecca Parton), lirik lagu itu menyiratkan detik-detik situasi Dolly bak buah simalakama. “Sometimes I try to count the ways and reasons that I love you… You are my inspiration, you are the song I sing… You are what makes me happy, you are my everything” (Kadang-kadang saya mencoba untuk menghitung cara dan alasan bahwa aku mencintaimu ... kamu inspirasi saya, kamu adalah lagu yang saya nyanyikan ... kamu adalah apa yang membuat saya senang, Anda adalah segalanya). (Santoso FN)

Thursday, June 12, 2014

Ingin menghidupkan sajak-sajak dalam hati lagi, datanglah hai Aku !!!

Thursday, November 7, 2013

Hi peminta diamku

biar katabuta mengecup keningsepi memandangmu pun cukup
selengang perjalanan rima memajang nelangsa panjang

biarlah setia menatap senyap membaca kalbu mengeja tetap cakrawala mendung
langit tak lagi lembayung

harapan kembara sungguh
bukan mengeja bahasa atau sajak tentangmu

sehela doa tunduk
embunan jatuh dari pucuk kehendak Nya

siapa tertidur siapa merakit mimpi dan mendekatkan Diri

Monday, October 21, 2013


Malam Puisi Malang Virus Penyembuh Jiwa


Malam Puisi adalah sebuah ruang independen, non-partisan dan tidak berafiliasi dengan partai politik, tokoh, kelompok, atau organisasi apapun. Kali pertama di Bali, kegiatan ini menginspirasi sejumlah orang di Indonesia. Sekejap bak ‘virus pembangkit gairah’, hingga bulan ke-enam, Malam Puisi telah diadakan di Bali, Jakarta, Surabaya, Jogjakarta, sampai di bumi satu jiwa Malang…

Tuesday, September 17, 2013

Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI)




Tumbuhkembangkan Kesadaran Menjaga Martabat


Selasa (17/9) pagi, H Soebagijo Ilham Notodidjojo meninggal dunia di usia 89 tahun. Tokoh pers penulis buku “Jagat Wartawan Indonesia” adalah legenda dan kebanggaan masyarakat pers di Indonesia. Masih teringat surat almarhum yang memberi motivasi saya agar terus bergairah, gigih dan menjaga martabat profesi....

Tergelitik benak saya dan mungkin dialami beberapa peserta saat menerima materi pada Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI) (2/9) – (12/9). Faktanya, memang ada di luar sana, orang-orang yang mengaku wartawan, wartawan yang mencari duit (atau iklan--red) semata-mata dan bukan mengabdi pada kemanusiaan....

Perlu diketahui masyarakat bahwa tidak semua para awak media bisa diberi uang atau iklan sebagai "penutup" sebuah berita dari peristiwa sehingga tidak dimuat media. Meski tidak menampik fakta, beberapa wartawan di lapangan diantaranya berusaha akur dengan konflik batin dalam diri. Salah satu faktornya karena beritanya “diredam” kebijakan redaksi atau kepentingan penguasa.

Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI) yang menghadirkan pemateri-pemateri senior seolah menepuk pundak gairah idealisme 22 peserta aktif. Tiga bahkan empat pemateri berulang kali menyerukan sub topik yang sama menyoal ‘intervensi' kepentingan. Sementara wartawan "sungguhan" akhirnya musti belajar independen dan tetap menjaga kehormatan.
Ashadi Siregar semisal, dosen ‘pantang pensiun’ meski berusia lebih dari 65 tahun itu lantang menyarankan seorang peserta agar tidak berdiam diri. "Bila situasinya seperti itu, Anda keluar saja. Anda (wartawan) boleh saja frustasi, saat ditekuk-tekuk (kepentingan--red) " ungkap Ashadi, Senin (2/9) saat memberikan materi filosofi dasar profesi Jurnalisme di kantor PWI Malang Raya.

Ashadi Siregar, pengarang novel “Cintaku di Kampus Biru” itu menyebut bahwa media pasti dipengaruhi berbagai kepentingan, terlebih media juga berperan sebagai lembaga ekonomi, lepas itu media besar atau kecil. Intervensi ini pula masuk ke redaksional koran kecil yang biasanya bertahan dari pendapatan iklan. Media tersebut terkadang goyah atas tawaran "pemblokiran" sebuah kasus sehingga barter dengan iklan atau kerjasama tertentu.

Intervensi kepentingan 'berduit' itulah menjadi pemicu frustasi wartawan-wartawan sungguhan yang berusaha sungguh-sungguh bekerja demi kepentingan publik dan kebenaran. Wartawan model seperti itu biasanya cukup sulit akur untuk diminta mencari iklan, apalagi menulis berita--yang belakangan hanyalah persoalan iklan—semisal pencitraan positif seseorang atau sekedar berita pengganti berita peristiwa lain.

Jadi mafhum, kepentingan 'berduit' turut campur di ruang redaksional. Intervensi  berpengaruh terhadap keberpihakan media. Terkadang, tekanan "sesungguhnya" inilah benar-benar menjadi beban yang kerap ditanggung wartawan junior atau wartawan senior yang berpegang pada nilai-nilai jurnalisme.

Pemakluman tersebut tentu menimbulkan pertanyaan besar. Sudahkah wartawan berada di media yang benar-benar profesional, independen, kritis dan berintregitas sebagai pengawas kebijakan pemerintah (koran putih—red). Di lain sisi, kondisi ekonomi pas-pasan tempat bekerjanya menjadi persoalan utama puluhan karyawan lain.

Intervensi berupa bargaining iklan atau tersingkirnya nilai independensi seolah diperkeruh oleh perilaku oknum wartawan dengan "mengelu-elukan seorang pejabat (pemilik kepentingan)". Pendek kata, wartawan memperdagangkan informasi—sebagai wujud keberpihakannya—telah mengaburkan makna, profesi atau pedagang.

Sangat jelas Sabam Siagian, Senin (9/9) lalu lantang berujar, "Jangan sekali-kali bersikap memalukan martabat wartawan, dengan memuji-muji pejabat. Peran media untuk memperbaiki kinerja aparat, " papar Sabam, mantan duta besar Australia yang berusia 81 tahun layak dihormati dengan semangatnya memberi materi 'hubungan pers dengan pemerintah’.

Tibalah agar dimengerti masyarakat, pembaca, instansi formal, bahwa tidak semua wartawan bisa menerima atau ditawari iklan. Masyarakat juga perlu mengerti jika belum tentu media yang menerima iklan, memiliki wartawan 'gampangan'. Uraian para pemateri seolah isyarat harapan besar agar wartawan muda menjaga idealismenya dan menjaga jarak dengan pejabat.

Faktanya, faktor ekonomi si kuli tinta dan kondisi ekonomi media juga tidak menentukan pengkondisian seorang wartawan. Kata lain, wartawan saat menjalankan tugas jurnalistik secara profesional memiliki hati nurani untuk menolak suatu penkondisian.

Ia lalu mencari, memperoleh, menggali, mengolah, mendokumentasikan dan menyampaikannya kepada redaktur. Setidaknya wartawan berusaha di titik tugasnya untuk memperjuangkan kepentingan publik yang lebih besar daripada menerima persenan honor iklan. Meski kemudian, berita tersebut masuk ‘tong sampah’.

Besar harapan agar masyarakat memahami persoalan ini. Bahwa terdiamnya wartawan lapangan tidak lepas dari berbagai kepentingan, sementara ia hanyalah seorang karyawan kecil atau prajurit yang siap berkorban tanpa berharap kemenangan bagi dirinya sendiri.

Sabtu (7/9) sesi materi pertama, Hendry CH Bangun, yang pernah menjabat sebagai Sekjen PWI Pusat 2008-2013 menyebut kerja wartawan adalah pilihan hidup. Hal ini berarti menekankan tanggung jawab besar berada di pundak wartawan (bukan redaksional). Pertanggungjawaban yang diatur dalam diri wartawan yaitu hati nurani.

Tanpa bermaksud menyindir, wartawan selalu menjadi pelaku sekaligus korban konflik batin dan kegigihannya demi sebanyak-banyaknya kepentingan. Mereka terus berjuang seperti harapan yang tersirat dari isi surat almarhum H Soebagijo IN. Selamat jalan dan terimakasih Bapak... (Santoso FN)


Friday, December 21, 2012

Ramalan

Hari ini, tanggal 21 Desember 2012, sebagian orang menyimak ramalan suku Maya tentang kiamat. Pembuktian yang konyol karena hari ini, matahari bersinar seterang-terangnya.... menerangi semua Makhluk Tuhan... siapapun itu

Wednesday, December 19, 2012


* Peringatan Hari Difabel Sedunia (3 Desember)

“Danpincuk Pengidola Gus Dur 
Yang Mau Merangkul Semua”


Tanggal 3 Desember kalangan publik internasional memperingati hari Difable (hari Cacat Sedunia). Banyak isu kemudian menyelimuti para manusia yang ‘dianugerahi’ kekurangan oleh Tuhan YME di dunia, termasuk di Indonesia dan salahsatunya di pundak Danpincuk (Komandan pimpinan pucuk) kader lingkungan di sudut desa Mangunrejo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang.

Kekurangan fisiknya berupa cacat bawaan lahir—kaki sebelah kanan bagi M Sodiq (42) merupakan anugerah untuk perjuangan hidup demi keluarga, anak-anaknya dan lingkungan serta bersosial kemasyarakatan.   

Pelan, tegas, lancar penuturan M Sodiq membagi wawasan pengalamannya kepada sejumlah wartawan, kemarin siang saat ditemui di sebuah warung kopi. Ditawari sebatang rokok, ia menolaknya halus. Pria sebagai imam bahtera keluarganya dikaruniai dua putra sejak menikahi Umi Wahyulestari (39) seorang guru PAUD. Ahmad Ma’aruf Al Khirqi (15) dan Abdurrahman Wachid Add Dhakhir (3) dibimbingnya menjadi anak yang berbakti.

Tiga tahun lamanya, Sodiq turut menjalankan roda ekonomi keluarga dengan menjajakan produk krupuk Ramba’an “AA” ke sejumlah toko besar lintas Kecamatan. Semua aral hidup dilakoni Sodiq dengan ikhlas dalam kondisi hanya berpijak dengan satu kaki kiri. “Kekurangan saya ini adalah anugerah. Saya dapat sejak lahir. Jalan saya sudah digariskan yang Kuasa, “ tuturnya.

Sembari menaruh tongkat kayu, pria yang keluar dari perkuliahan fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang ini mengungkapkan jika sejak lama ia sudah getol di bidang organisasi. Selama menjadi mahasiswa pun ia tidak sekali dua kali turut berunjuk rasa, terutama persoalan maraknya SDSB dan penggantian Bemo dengan Angkot.

“Saya lahir di Jatirejoyoso, SD di sana, Mts dan Aliyah di Pasuruan. Sejak sekolah, saya jadi ketua kelas, ketua Osis, dengan kondisi kekurangan saya, tidak ada kendala, “ sebut Sodiq. Perjalanan keluarga Sodiq sempat terombang-ambing pada sekitaran 2002, hingga kemudian berbalik merambat naik atas perjuangan Sodiq.

Kini Sodiq ibarat ‘gak krasan ndek ngisore genteng’ (Tidak betah di bawah genting—red) lantaran sering beraktifitas tanpa mengenal lelah. Sejumlah aktifitas keorganisasian kemudian turut tersisip dalam kehidupan Sodiq sebagai pengabdiannya untuk lingkungan sekitar. Sederet aktifitas, diantaranya tercatat sebagai pembina LP3L Desa Mangunrejo, kordinator PNPM perkotaan Mangunrejo dan Danpincuk kader lingkungan serta memberikan pembinaan ‘Bank Sampah’ di desanya tinggal.

Di mata Sodiq, kekurangan tidak dapat dijadikan alasan berhenti berjuang. “Jauh sempurna saya tapi saya bersyukur karena tidak lontang lantung. Saya “tidak melihat terus ke bawah”, kalau “mendongak terus ke atas” juga akan sakit. Kekurangan saya jusru menjadi solusi, “ ungkap filosofis Sodiq yang mengartikan pula bahwa terus bekerja dan berguna bagi lingkungan adalah pilihan penting untuk membuat sebuah perubahan daripada mengeluhkan masalah kompleks kehidupan.

“Di bidang organisasi, saya tidak mengharuskan diri sebagai ketua. Saya sudah cukup bersyukur dapat berguna untuk lingkungan. Adanya Bank Sampah, bisa berguna dan membantu warga desa, “ papar Sodiq yang mengidolakan sosok almarhum Gus Dur—sapaan akrab Abdurrahman Wachid—presiden ke-3 Republik Indonesia. Kenapa Gus Dur? “Gus Dur itu unik. Dia bisa merangkul semuanya. Siapapun. Agama Islam dimaknai sebagai rahmatan lil alamin, “ urai Sodiq. 

Sebagai orang berkaki satu, adakah ia sering dilecehkan seseorang? Ia lalu menceritakan pengalamannya membeli barang di salah satu pasar Kepanjen. Bukannya dilayani penjual, Sodiq malah diberi selembar seribu rupiah. Terangsaja pelecehan ini membuat Sodiq menahan amarah dan hanya mengucapkan bahwa dirinya sanggup membeli bedak di penjual.

Menurutnya, pelecehan, diskriminasi dan ‘pengurangan’ daya kreatifitas sering dialami kaum difable di Indonesia. Adanya pengumpulan komunitas orang-orang termasuk difable, dinilai Sodiq sebagai pengkerdilan dan ‘pelecehan’ kaum difable. “Tidak seharusnya mereka dijadikan ajang mencari proyek. Mereka seakan ‘direndahkan’, seperti ‘dikurung’ diajari membuat sandal, kerajinan. Itu bisa membuat mereka tidak percaya diri, ‘seperti katak dalam tempurung’, “ papar Sodiq.

Ia melanjutkan pandangannya, “Lihatlah realitas, masyarakat. Kebanyaan mereka melihat orang yang cacat sebagai kelemahan. Mereka itu sebenarnya bisa, kita bisa memberdayakan diri, “ tambah Sodiq, anak ke-lima dari 9 bersaudara. Pelecehan terhadap difable kemudian disebut Sodiq telah merasuki sistem pemerintah, terutama penyelenggara pemerintahan.

Kondisinya yang “kurang satu kaki”, sesungguhnya tidak menyita perhatian sedikit dermawan. Sejumlah tawaran pemberian gratis kaki palsu kemudian bukan berarti ditolak mentah-mentah lantaran tidak mengandung ketulusan bagi seorang Sodiq.

Sekaliber Andy F Nayoan (program Kick Andy) pernah pula ditolak Sodiq. Di mata Sodiq, adanya kaki palsu sama dengan pengejawantahan dari penipuan yakni menipu diri sendiri dan orang lain. Pemakaian kaki palsu menurut Sodiq tidak memiliki esensi nilai tambah bagi perjuangan kehidupan.

Sepele, baginya, pemakaian kaki palsu dapat merepotkannya ketika melakukan aktifitas rutin sepreti masuk ke dalam kamar mandi. Dimengerti maksud Sodiq, apapun situasi diri, ia berharap adanya kejujuran dengan penampilan apa adanya.
“Tidak ada nilai tambahnya. Malah merepotkan. Bagi saya, itu mempersulit kita masuk WC. Ketok’e gagah, tapi itu menunjukkan esensi penipuan, “ sebut Sodiq yang juga mengidolai sosok Mahatma Gandi, San Su Kyi. 

Pria yang tidak suka merokok ini kemudian mempertanyakan rasa toleransi perusahaan swasta bagi para difable atau kaum ‘kekurangan’. Salahsatunya di bidang pekerjaan, kaum difable sering mendapat perlakuan diskriminasi. Tidak sekali dua kali, ia menghujat bahwa diskriminasi dilakukan pihak penyelenggara pemerintah, terutama dalam bidang pekerjaan atau penerimaan pelamar kerja.

Diterangkannya, lowongan kerja sering mencantumkan persyaratan bahwa pelamar kerja diharuskan sehat jasmani dan rohani. Kalimat sehat jasmani dan rohani rupanya hanyalah bahasa lain dari ‘korupsi’ esensi arti kata sehat itu sendiri. Sebab kata ‘sehat’ dimaknai para penerima pelamar kerja dengan sehat secara utuh bagian tubuh tanpa kekurangan.

“Sehat dimaknai harus lengkah jasmaninya, saya tidak sepakat kalau itu kemudian dimaknai kekurangan bagian atau fungsi tubuh. Kondisi kekurangan seperti saya ini bukan penyakit, “ papar Sodiq yang usaha bisnis krupuknya juga dibantu enam keluarga janda. (Santoso Fn)

Seseorang Memanggilku Setia Sendirian

Seseorang memanggilku lelaki. Dia dari sebagian diri yang memilih sendiri. Mereka yang memutuskan aku butuh kekasih. Tapi jauh dari sedih. Alasan tak mungkin kalian mengerti. Bahwa cinta itu bukan memiliki keharusan. Bahwa cinta itu bukan benda atau kalian simbolkan manusia. yang lalu kau kultuskan dalam hati.

Seseorang memangglku tak laku-laku, Dia dari sebagian diri yang tak dikenal umum kalian. Bahwa cinta itu tidak harus memiliki obyek dalam hidupnya. Alasan tak mungkin kalian terima. Alasan yang bukan alasanku tuk merindukan kekasih. Tapi tetap biarlah mencari. Biarlah setia sendirian. Siapalagi kan ku duakan? siapa selain, cinta itu sendiri. 

Menuju 2013

Semoga pada tahun 2013 nanti, blogger ini bisa bermanfaat sebagai tinjauan referensi, curahan hati, opini dan bacaan tuk temen-saudara-sahabat yang mau belajar bersama untuk memanusiakan dan menghidupi semangat bersyukur. Amin 

Sunday, July 5, 2009

Menjadi

Menjadi untuk mengada. Mengada untuk menjadi. Dengan belajar menjadi ada. Seutuhnya...dan ketika kita berpulang. Jadilah kenangan atau sekedar teman bagi seseorang yang mencintai kita...

Perjuangkan!!!


Perjuangkan Upah Layak Biar Wartawan Enggan Menerima 86!!!

Saturday, January 10, 2009

Love Is Beautiful



Love Is Beautiful


IF ONLY



"If Only"





If Only adalah sebuah film yang pernah diceritakan mantanku. Kristin Juwita. Saat itu (2007) aku dan dia masih berkasih-kasihan. If Only. Kisah drama percintaan yang mengharuskan seorang kekasih musti hidup sendiri. Samantha diperankan Jennifer Love Hewitt dan Paul Nicholls sebagai Ian. Keduanya kekasih.

***Sinopsis : Shortly after a painful fight with her boyfriend Ian (Paul Nicholls), Samantha (Jennifer Love Hewitt) dies in a terrible accident. Miraculously, Ian gets an opportunity to live the fatal day all over again, and possibly prevent her death.

***
Ian seorang lelaki pengejar karir yang super sibuk. Samantha seorang seniman, dia hampir lulus dari kuliahnya. Namun, saking sibuknya, Ian melupakan momen-momen penting dari Samantha. Padahal, Samantha sangat menginginkan Ia mempedulikan kepentingan dan kebutuhan Samantha.

Bahkan, hadian pemberian untuk Samantha pun dilupakan Ian. Pun dengan Konser kelulusan Samantha. Ia hanya memikirkan dirinya. dan pekerjaannya doank. Ah!!! hingga ditengah perjalanan keduanya mengalami kecelakaan! Samantha tewas dalam tabrakan maut itu.

Ajaib! misterius. Ian masih hidup. Dalam sebuah taksi, seorang sopir misterius menawarkan dirinya. Apakah mau menukarkan nyawanya dengan kekasihnya--Samantha jika waktu bisa kembali. Ian menerimanya. Tiba-tiba, Ian terbangun. di rumahnya. terbangun bersama kekasihnya. Samantha Hidup kembali!

Dari situlah, Ian menceritakan jika masa hidupnya hampir selesai kepada Samantha. Tapi kekasihnya yang cantik itu tidak percaya. Syukurlah, Ian menyadari kesalahan di masa lalu. Dia berubah. Merubah takdir jalan hidupnya! Apa yang dia keliru perbuat, Ian hindari. Dia menciptakan hari yang sempurna bagi Samantha--kekasihnya.

Sebelum ajal, Ian memberi tahu Samantha. Bahwa dengan Samantha, Ian menemukanm cinta. belajar mencintai. belajar mempedulikan kekasih. belajar tidak egois. belajar berbuat yang terbaik demi kekasihnya. Dan yang paling membahagiakan bagi Ian. Bahwa apa yang dia belum sampaikan, akhirnya sampai juga diucapkannya. Cinta.

Tidak harus memiliki. biarlah Tuhan memberi jalannya. dan kita, bagi sepasang kekasih musti berbuat yang terbaik. tidak untuk diri sendiri. tidak untuk yang kita cintai saja. mencintai. hanya memberi. hanya memberi. tanpa mengharap balas. tanpa harus memaksakan apa yang kita harapkan. atau diimpikan.

Ikhlas.

dan pukul 23.00. Ian tewas. menggantikan Samantha. Samantha sendiri. Ian "pergi". Namun cinta, namun cinta telah membuatnya tidak pernah takut. pada apapun. bahkan pada kematian. juga kesendirian. hanya ada haru. hanya ada bahagia. karena air mata cinta, sudah kering. menitik

Semoga bermanfaat. Amin.

Kris, If Only.








Wednesday, December 10, 2008

Hujan Desember

Desember. Surat tuk Putri Paramata

Kau sendirian di malam itu terjaga.lalu berkata, aku tidak bisa tidur. Sabarlah Dik. Hidup masih kita jalani. masih ada waktu. masih ada tempat. nafas masih berhembus. kau sakit, akupun sakit. semua di dunia ini pun pesakitan. entah. dengan apalagi doa musti kita sampaikan. pada Hyang Maha Penyembuh. Cukupkah airmata yang mencintai Utie? hingga redanya hujan. kita masih asyik bersenda. saling mengirim senyum. pada angin malam. pada rintikan basah terakhir. doa kita pun lelap...Semoga.

Tuesday, October 7, 2008

Terjatuh Lagi "yang Misterius"...

Sabtu,4 Okt 2008, Pkl 03.00 aku keluar dari Polsek Sumber Manjing Wetan. Tidak mendapat bahan berita sedikitpun. Hanya ada taruna 363 baru dan informasi kalau ada orang tenggelam di pantai Sendang Biru (laut Selatan). Selain Tim SAR, ada pula Kapolres yang mengunjungi TKP (sekalian wisata kalee). Sebenarnya ada niat buat juga nampang di TKP. Masak Komandan besar tidak didampingi wartawan. he he he.
Turun dari Polsek, menuju ke Selatan, sekitar 2 Km, tujuanku berubah, gara-gara melintas mobil Provost balik ke Utara (jangan-jangan Kapolres ada didalamnya!). Akhirnya akupun berbalik kanan, bermaksud pulang. dan...brak!!! kepala bagian belakangku serasa berat,...sangat berat dan pusing...
Tiba-tiba aku tersadar di rumah yang sepertinya tidak asing. ya di rumah orang yang sepertinya sudah kukenal jauh sebelumnya. Tapi aku tidak kenal nama-nama mereka disitu.
aku cuma bisa bengong. Guyon terus mengalir sama Arik (Provost Rindam) juga ibu dan istrinya, wajahnya tidak asing. Darinya, aku dapat cerita kalau aku baru saja kecelakaan (terjatuh) dan berjalan sendirian menuju rumahnya.
Aku sungkem sambil menangis ke orang-orang disitu, dan bicara yang tidak umum. Arik yang kekar bilang "'kamu bilang kalau kamu sudah mati berkali-kali, kamu pernah hidup di tahun 2008, malah katamu kamu udah kenal dengan aku dan mertuaku' itu katamu kemarin (malam hari, Sabtu)" cerita Arik.
Aneh. Aku tidak ingat sama sekali sudah bilang seperti itu, tapi rasanya aku pernah mengucapkannya. Syukurnya, aku masih selamat. Tidak mati! padahal daerah sana terkenal rawan pembegalan dan pembunuhan! motorku tidak hilang. Tapi kamera dan uangku raib, juga tas besar Shicataku! syukurlah aku masih selamat. Masih Hidup.
Apa yang terjadi? aku hanya bisa menyadari...aku belajar terjatuh dan mensyukurinya
aku mulai dari nol. menjadi wartawan dan masih mencari sejatining Batin. Amin
"San...jangan suka mengada-ada" ujar Arik. Insya Allah Mas. kuusahakan tidak lagi dan dikurangi!

Saturday, October 4, 2008

Maaf

Maaf untuk siapa? Siapa yang selalu memaafkan? Memberi maaf adalah untuk memaafkan diri sendiri dari kebencian yang membelenggu diri. Memberi maaf orang lain sama dengan memaafkan diri kita sendiri. Menerima maaf dari seseorang adalah memberikan peluang kepada diri kita pribadi, untuk belajar mudah memaafkan dan peluang untuk mendekatkan diri kepada Hyang Maha pengampun. tapi satu. tapi satu yang tidak akan pernah saya maafkan! kekasihku yang sangat amba cintai. Maaf Kris...

Monday, September 29, 2008

Maaf

Memaafkan orang lain sesungguhnya bukan untuk memberikan peluang kepada orang lain saja. Namun juga untuk diri seorang yang memaafkan, memberi peluang untuk memperbaiki diri.

Wednesday, September 17, 2008

tidak ada judul

Cinta hanya untuk pujangga
dan seseorang yang jatuh cinta
atau seseorang yang belajar mencintai Cinta
itu sendirian

aku masih belum juga jatuh cinta kembali
suatu waktu nanti